Sudah Seberapa Banyak Nilai Manfaat Kita untuk Orang Lain?

oleh

Sudah Seberapa Banyak Nilai Manfaat Kita untuk Orang Lain?

 

Ditulis oleh: Muhammad Pudji (Relawan Humas DPW PKS Jambi)

 

Rasulullah shallallaahu ’alayhi wasallam pernah bersabda:

 

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

 

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

 

Manusia sebagai mahluk sosial diciptakan ke dunia ini tidak sendirian. Kita hidup bersama-sama dan berinteraksi satu dengan yang lain, karena pada dasarnya kita berada dalam situasi saling membutuhkan. Masing-masing dari diri manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada orang kaya (the have) dan ada pula orang yang hidup di bawah garis kemiskinan (the have not). Ada yang pintar, tetapi ada pula yang kurang pintar. Ada yang kreatif, dan ada yang belum kreatif. Ada yang gesit dan cepat, dan kebalikannya ada pula yang pelan dan lambat. Itu semua sudah menjadi ketentuan Allah Azza wa Jalla.

 

Dalam surat An Nahl ayat 71 Allah berfirman:

 

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ ۚفَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَادِّي رِزْقِهِمْ عَلَىٰ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَاءٌ ۚأَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

 

Artinya: “Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rizqi ( lantaran usaha masing-masing kamu jelas berbeda). Tetapi orang-orang yang dilebihkan (rizqinya itu) tidak mau memberikan rizqi mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rizqi tersebut. Apakah mereka mengingkari (dan tidak mensyukuri) ni’mat Allah?”

 

Kelebihan yang diberikan Allah hendaknya jangan membuat kita menjadi orang yang sombong dan berbangga diri. Kelebihan itu hendaknya menjadikan kita hamba yang senantiasa bersyukur dan mawas diri. Gunakanlah kelebihan yang kita miliki untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang di sekitar kita. Bukan hanya menjadi manusia yang bermanfaat untuk diri sendiri, tetapi juga bermanfaat untuk orang lain.

 

Pertanyaannya: di usia kita sekarang ini sudahkah kita menjadi orang yang bermanfaat untuk keluarga dan lingkungan kita? Sudahkah kita menjadi orang yang dermawan, ringan menolong, dan murah hati? Sudah seberapa banyak nilai manfaat kita untuk masyarakat di sekitar kita?

 

Sebagai ummat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wasallam, sudah selayaknya kita menancapkan di relung hati terdalam hadist tadi. Teruslah berusaha untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain, jadikanlah diri kita penolong bagi kehidupan orang di sekitar kita, baik kita kenal maupun kita tidak mengenalnya. Jadilah manusia yang punya sifat murah hati kepada sesama dalam hal apapun, baik dalam urusan harta, tenaga, waktu, ataupun pemikiran.

 

Lakukan apa saja selama itu baik dan bermanfaat. Sedikit atau banyak yang bisa kita lakukan, pasti akan ada dampaknya bagi orang lain untuk kehidupan yang lebih baik. Mulailah kebaikan dari hal-hal terkecil dan mulailah sekarang juga.

 

Untuk menempa diri agar terbiasa dengan semua itu, maka jangan pernah hitung-hitungan dan selalu takut rugi, karena sebetulnya kita meyakini Allah Azza wa Jalla telah menjamin segala urusan kita. Allah yang memberi semuanya, Allah yang Maha Kaya dan Maha Melihat segala yang kita lakukan. Luruskan niat karena Allah semata. Percayalah dan yakinlah pahala Allah akan membawa kita menuju Jannah-Nya yang abadi.

 

Semoga Allah mempermudah niat dan langkah kita dalam kebaikan. Aamiin. Wallaahu a’lam.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.