Mari Istiqomah di Jalan Allah

oleh
Sumber gambar : http://na-iv.blogspot.co.id/2016/08/tetap-istiqomah.html

Di tulis oleh : Yanita

Setiap manusia pasti memiliki hati. Ya iyalah. (Hehehe..) Hati adalah sentral dari setiap gerak amal manusia. Dapat berubah ubah setiap saat. Karena itulah ia dinamakan Qolbu. Jika qolbu baik, maka baiklah seluruh anggota badan. Dan sebaliknya, jika ia berubah buruk, maka akan buruk pula seluruh anggota badan yang lain. Di sanalah bersemayam iman seseorang.

Keimanan dalam dada setiap insan adalah harta yang paling berharga. Berharga dari segalaNya. Itulah karunia Allah SWT yang agung. Iman diberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya.

Keimanan itu naik turun. Bisa bertambah dan berkurang. Sesungguhnya, naik turunnya iman seseorang bisa dirasakan oleh kita sendiri. Bagaimana caranya? Dengan melihat gejala gejalanya. Indikatornya adalah amal perbuatan kita. Semakin kita banyak melaksanakan amal kebaikan, berarti iman kita sedang baik. Begitu juga sebaliknya. Jika kita banyak melakukan maksiat, maka iman kita sedang turun.

Setiap manusia menginginkan hati yang bersih. Iman yang selalu bertambah agar bisa meraih RidhoNya. Oleh karena itu, iman perlu dijaga dan dipelihara dengan sifat istiqomah.

“Sesungguhnya orang orang yang mengatakan, Rabb Kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka Malaikat akan turun kepada mereka(dengan mengatakan), “Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian”. Fushilat: 30)

Sifat istiqomah melahirkan keberanian untuk tetap tegak dalam kebenaran. Selain itu, sifat ini dapat menghilangkan rasa takut kita dan rasa kecil kita di hadapan manusia lainnya. Karena istiqomah, Rasulullah tetap tegar dalam berdakwah.

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Huda: 112)

Jika para sahabat dan Rasulullah selalu mengasah dan memperbaharui keimanannnya, padahal mereka adalah sebaik baik manusia, bagaimana dengan kita? Seharusnya kita lebih kuat dalam menjaga iman kita yang sering naik turun ini. Semoga ALLAH selalu menjaga sifat istiqomah ini agar kita selalu dekat dengan Allah. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.