8 Adab Pernikahan Islami

oleh

8 Adab Pernikahan Islami

 

Seiring dengan meningkatnya pemahaman terhadap nilai-nilai keislaman di Indonesia, saat ini ada trend baru di mana masyarakat sudah mulai menerapkan tata cara pesta pernikahan yang sesuai syari’at. Bagaimana sebetulnya adab-adab dalam pesta pernikahan tersebut? Yukk kita pelajari.

 

1) Luruskan niat: ingin mengikuti sunnah Rosul

 

Misalnya dalam hal baju pengantin. Pakaian mempelai perempuan haruslah menutup aurat, memanjangkan jilbab hingga menutup dada, tidak ketat dan tidak transparan. Hijab tamu juga perlu ditandai untuk membedakan tempat tamu lelaki dan tamu perempuan.

 

Pengantin perempuan juga tidak tabarruj (bersolek dengan aneka kosmetik) di hadapan tamu-tamu non mahrom kecuali di tempat terpisah (khusus perempuan) atau terhijab.

 

2) Tidak membeda-bedakan tamu undangan

 

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam pernah bersabda: “Seburuk-buruk hidangan adalah makanan walimah, yang diundang untuk menghadirinya hanya orang-orang kaya, sedangkan orang-orang yang fakir tidak diundang…” (HR. Bukhari-Muslim)

3) Tidak Ikhtilat (bercampur-baur antara tamu lelaki dan perempuan)

 

“Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam jika salam dari shalat, para jama’ah wanita kala itu berdiri. Beliau tetap duduk di tempat beliau barang sebentar sebelum beranjak. Kami melihat –wallahu a’lam– hal itu dilakukan supaya wanita bubar lebih dahulu sebelum berpapasan dengan para pria.” (HR. Bukhari, no. 870)

 

Larangan ikhtilat ini dimaksudkan agar antara para lelaki dan para perempuan yang hadir di Walimah tersebut tetap terjaga pandangan dan tidak bersentuhan/bersenggolan dengan non mahrom.

 

4) Hiburannya harus islami

 

Usahakan tidak menyetel musik jahiliyyah. Gantilah dengan nasyid atau lagu-lagu bertema netral bukan yang mengundang syahwat, dan usahakan penyanyinya laki-laki. Lebih baik hiburan diisi sholawatan, qasidahan, lagu daerah atau lagu-lagu religi kekinian yang mengajak kepada kebaikan sekaligus mengakomodir kearifan budaya lokal.

 

5) Makanannya halal dan tidak lupa berbagi

 

Pastikan seluruh hidangannya terbuat dari bahan-bahan yang halalan toyyiban. Makanan walimah hendaknya juga dibagikan kepada warga sekitar (tetangga). Hadits Rosuulullaah shallallaahu ‘alayhi wasallam: “Wahai Abu Dzar, apabila engkau membuat suatu masakan, maka perbanyaklah kuahnya. Kemudian undanglah tetanggamu atau engkau dapat membaginya kepada mereka.” (HR.Muslim)

6) Menjaga waktu sholat

 

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat memiliki waktu yang telah ditetapkan bagi orang beriman.” (QS. An Nisaa’: 103)

 

7) Tidak mewah / berlebih-lebihan

 

Rasulullah SAW bersabda: “Selenggarakanlah walimah meskipun dengan hanya menyembelih seekor kambing.” (HR.Bukhari no.5167 dan HR.Muslim no.3475)

 

8) Tidak mengganggu warga sekitar

 

Suara keramaian dan hiburan saat pesta berlangsung, jangan sampai mengganggu tetangga. Termasuk dalam hal penataan parkiran tamu hingga limbah makanan, asap tungku dapur, dan sampah-sampahnya, sebisa mungkin tidak boleh merugikan para tetangga.

 

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Seorang yang senantiasa mengganggu tetangganya niscaya tidak akan masuk surga.” (HR. Muslim).

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.