11 Tips Hidup Bahagia

oleh

1) Buatlah orang di sekitarmu bahagia. Biasakanlah menolong kesulitan orang lain. Telpon teman lamamu. Jenguklah yang sakit. Jaga lisanmu. Maafkan kesalahan orang lain. Cepat meminta maaf jika ada sikapmu yang kurang berkenan. Hapuslah dendam. Biasakan memberi hadiah.

Terkadang kita kurang menyadari, membahagiakan orang lain itu ternyata sangat membahagiakan kehidupan kita. Hal ini hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang gemar berbagi. Energi mereka yang kita bahagiakan, seolah terpancar kembali ke dalam diri dan kehidupan kita. Subhanallaah!!

2) Kamu istimewa, iyyaaa… Kamuu!! Karena setiap manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya (fii ahsani taqwiim). Setiap orang memiliki peran masing-masing. Tidak ada yang diciptakan sama, walau kembar identik sekalipun. Ada pepatah: belajarlah dari alam semesta maka engkau akan mengerti arti kehidupan.

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda, peluang dan tantangan hidupnya pun berbeda-beda. Allah tak mungkin menciptakan orang-orang dengan berbagai karakter serta alam semesta yang luas ini tanpa tujuan yang pasti. Namun agar kita bertaqwa kepada Allah dan berperilaku sesuai kehendak-Nya.

“(Yaitu) orang orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):”Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka”. (QS.Ali ‘Imran:191).

Apakah kamu masih merasa tidak bahagia, padahal Allah menciptakanmu istimewa? Kelebihan jangan menjadikanmu sombong, kekuranganmu pun jangan membuatmu minder, tetapi berusahalah memperbaikinya agar engkau menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Kalau orang bisa, kenapa kamu tidak??

3) Belajarlah mengambil tanggung jawab. Tanpa tanggung jawab, seseorang cenderung hidup seenaknya, tanpa arah dan visi yang jelas, lebih suka dilayani, lebih suka memanfaatkan fasilitas tanpa mau bersusah payah. Dia tidak menyadari, tidak selamanya hidup bisa di zona nyaman seperti itu terus tanpa ikhtiar nyata. Ayo, belajarlah bertanggung jawab untuk dirimu, keluargamu, orangtuamu, orang-orang di sekitarmu, dan tentu saja untuk tegaknya agamamu.

Memang benar, tanggung jawab berarti beban. Tetapi dengan beban itu hidup kita jadi punya target yang jelas. Target tahunanmu bisa kamu derivasi jadi target-target bulanan, pekanan, bahkan harian. Dengan begitu, setiap hari kamu jadi bersemangat mengejar target-target dalam hidupmu.

4) Berdamailah dengan keadaan. Jangan buat standar yang terlalu tinggi, tapi lakukan segala sesuatu secara bertahap. Jangan hanya berfikir engkau butuh solusi untuk dirimu. Tetapi pikirkanlah, orang lain pun butuh solusi untuk diri mereka. Berdamai dalam keadaan itu berarti: harus ada win-win solution. Solusi untuk semua pihak.

Jangan egois dengan mementingkan diri sendiri. Orang yang egois mustahil bahagia, dia cuma mendapat kesenangan yang semu, keceriaan yang membosankan, karena ia memperoleh semua itu dari mengorbankan hak-hak orang lain.

5) kerjakan semua perintah Allah, jauhilah segala larangan-Nya. Di luar prinsip ini, mustahil orang akan bahagia. Karena kebahagiaan dunia-akhirat hanyalah dengan cara itu saja: menegakkan syari’at Allah dalam hati kita dan terwujud dalam semua perilaku kita sebagai seorang Muslim.

6) luangkan waktu bersama orang-orang yang kamu sayangi. Milikilah quality time bersama orang-orang terkasih, bersama kedua orangtuamu, kakak-adikmu, kakek-nenekmu, keluarga dan kerabatmu, istri dan anak-anakmu, siswa dan binaanmu, bahkan dengan sahabat, teman kantor, dan tetangga-tetanggamu.

Jadilah orang yang social-minded, ramah dan senang bergaul dengan banyak orang. Adapun orang yang suka menyendiri akan cenderung introvert, menutup diri dari orang lain, misterius, sensitif dan gampang emosi.

7) Tekunilah hobimu. Menekuni hobi akan menjauhkan kita dari stress. Apalagi menjalankan hobi itu ibarat mengerjakan pekerjaan yang kita sukai, tentu kita senang berlama-lama mengurusi hobi kita. Jika kamu tekun, bisa jadi suatu saat hobimu itu berubah jadi profesi yang kamu expert di dalam bidang tersebut.

Banyak orang yang mengorbankan banyak uang untuk bisa menyalurkan hobi, tetapi banyak pula orang yang akhirnya dapat uang berlimpah dari mengalihkan hobinya menjadi bisnis serius. Kamukah orangnya? Coba saja.

Percayalah, Allah selalu membekali setiap manusia dengan life skill untuk menopang kemandiriannya di masa depan. Kalau kamu tak pernah mencoba, bagaimana kamu tahu ternyata itu jalan kesuksesanmu?

8) Hidup adalah kombinasi dari rasa syukur dan rasa sabar. Selain optimal berikhtiar dan optimal bertawakkal, kebahagiaan juga ditopang oleh dua rasa ini: rasa syukur dan rasa sabar. Kita harus bersyukur pada hal-hal yang sudah sesuai harapan kita, dan kita harus bersabar pada hal-hal yang belum sesuai harapan kita.

Syukur dan sabar ini saling melengkapi. Orang yang tak pandai bersyukur, maka ia akan lebih tak pandai lagi bersabar. Sedangkan orang yang pandai bersabar, biasanya ia juga akan pandai bersyukur.

9) Peliharalah semua sifat positif, dan jauhilah sifat-sifat negatif. Orang akan bahagia jika pada dirinya berkumpul seabrek karakter positif. Sedangkan mereka yang tidak bahagia, biasanya dilingkupi oleh seabrek karakter negatif dalam dirinya.

Orang yang positive-thinking akan cenderung optimis menghadapi kehidupan. Ia husnuzhon terhadap segala sesuatu. Ia ramah pada semua orang. Ia senang bergaul, tidak mengucilkan diri. Ia ringan membantu sesama. Ia merasa cukup dan bersyukur terhadap semua karunia Allah. Mungkinkah orang seperti ini tidak bahagia? In syaa Allah pasti bahagia ya…

Sebaliknya orang yang cenderung negative-thinking, ia gampang su’uzhon, egois, kurang menjaga lisan sehingga mudah menyinggung orang lain, mudah tersulut emosinya, hmm… Bagaimana ia akan bahagia? Kapan ia bahagia? Bahkan semua orang tak nyaman berada di dekatnya, kecuali yang punya karakter sejenis dia. Waduhh!!!

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

10) Sempatkan waktu untuk bermuhasabah. Umar bin Khattab berkata: haasibuu anfusakum qobla antuhaasabuu (hisablah dirimu di dunia sebelum engkau tiba di yaumil hisab/akhirat). Muhasabah adalah sistem evaluasi paling tepat buat seluruh kaum Muslim. Hisablah amal-amal harianmu. Hisablah kualitas kehidupanmu di dunia.

11) Berprestasilah di dunia, sembari fokus ke urusan-urusan Akhirat.

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS. An Nahl: 41)

Ingatlah pepatah Arab: man jadda wajadda (siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil). Tentu saja tidak ada kebahagiaan yang bisa diraih tanpa kesungguhan. Kesungguhan itulah pangkal dari semua prestasimu di dunia dan akhirat.

Namun bisa jadi di antara manusia ada yang hingga akhir hayatnya Allah belum berkenan mengabulkan cita-citanya, belum membahagiakan dirinya dengan hasil kerja dan jerih payah, tetapi pasti akan Allah sempurnakan untuknya ganjaran di akhirat kelak. Apapun yang ia kerjakan tidaklah sia-sia selama dia beriman. Bahkan bisa jadi keletihannya selama di dunia menjadi investasi kebahagiaan buat anak-cucunya kelak.

Jangan berhenti bahagia. Jangan pula menunda bahagia. Bahagia itu sekarang, bahagia itu sederhana. Bahagia itu hanya bisa diperoleh dari hal-hal yang berkah, hal-hal yang diridhoi Allah.

Kalau kamu merasa bahagia padahal kamu sedang jauh dari Allah… Itu namanya bukan bahagia!!! Itulah virus istidraj (bertambahnya rejeki karena bermaksiat). Kalau terjangkit, segeralah beristighfar. Apalah artinya merasa senang hidup di dunia tapi tidak bahagia di akhirat kelak. Walloohu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.